Posted by you

Your Titel

Descriptions here

Ngeblog Offline
Posted by you

Your Titel

Descriptions here

Tab View Slide
Posted by you

Your Titel

Descriptions here

tab view sederhana

Selasa, 10 Maret 2009

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Oleh : Asep Supriyadi (07422007)

1. Pengantar


Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

  1. Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.
  2. Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.
  3. Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peranserta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.


Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen Berbasisi Sekolah (School Based Management).

2. Faktor Pendorong Perlunya Desentralisasi Pendidikan


Saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan1. Beberapa perubahan tersebut antara lain,

  1. Orientasi manajemen yang sarwa negara ke orientasi pasar. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul.
  2. Orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis.
  3. Sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.
  4. Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global.


Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif, yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Disamping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal), menghambat kreativitas, dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi2 terinci sbb.:

  • tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.
  • anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah.
  • ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam.
  • penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat
  • tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.


Desentralisasi pendidikan, mencakup tiga hal, yaitu;

  1. manajemen berbasis lokasi (site based management).
  2. pendelegasian wewenang
  3. inovasi kurikulum.


Pada dasarnya manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti pendelegasian wewenang dan urusan pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan kurikulum sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah. Pada kurikulum 2004 yang akan diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi minimal. Daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang tercermin dalam silabus sangat erat dengan program-program pembangunan daerah. Sebagai contoh, suatu daerah yang menetapkan untuk mengembangkan ekonomi daerahnya melalui bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya dengan materi-materi biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan kepada tenaga sekolah, orangtua, siswa, dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.

Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional. Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria,dan Zimbabwe3.

Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal. Kurikulum juga harus mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional.

Proses belajar mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media dan sumber belajar, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa.4

3. Konsep Dasar MBS


Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

4. Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)


Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah, maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. Ciri-ciri MBS, bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, pengelolaan SDM, proses belajar-mengajar dan sumber daya sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut:

Ciri-ciri sekolah yang melaksanakan MBS




*) Pada dasarnya kepemimpinan transformasional mempunyai tiga komponen yang harus dimilikinya, yaitu:

  • memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman, percaya diri, dan saling percaya dalam bekerja
  • memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya
  • memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru.5


Dengan demikian, MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility), kreatif dalam bertindak dan mempunyaiwewenanglebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountabilitybystakeholders).Secara ringkas perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapatdigambarkan sebagai berikut:



Diharapkan dengan menerapkan manajemen pola MBS, sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal berikut:

  • menyadari kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi sekolah tersebut
  • mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan input pendidikan yang akan dikembangkan
  • mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya
  • bertanggungjawab terhadap orangtua, masyarakat, lembaga terkait, dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah
  • persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan.


Hasil rumusan yang dihasilkan peserta kemungkinan sangat banyak dan bervariasi. Pada akhir diskusi, fasilitator bersama-sama peserta mencoba mengklasifikasi dan menggabungkan rumusan yang sejenis sehingga diperoleh ciri-ciri Manajemen Berbasis Sekolah. Misalnya:

  • Upaya meningkatkan peran serta Komite Sekolah, masyarakat, DUDI (dunia usaha dan dunia industri) untuk mendukung kinerja sekolah
  • Program sekolah disusun dan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar mengajar (kurikulum), bukan kepentingan administratif saja.
  • Menerapkan prinsip efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran, personil dan fasilitas)
  • Mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi lingkungan sekolah walau berbeda dari pola umum atau kebiasaan.
  • Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat.
  • Meningkatkan profesionalisme personil sekolah.
  • Meningkatnya kemandirian sekolah di segala bidang.
  • Adanya keterlibatan semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah (misal: KS, guru, Komite Sekolah, tokoh masyarakat,dll).
  • Adanya keterbukaan dalam pengelolaan anggaran pendidikan sekolah.



1Miftah Thoha, Ph.D. "Desentralisasi Pendidikan", Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No.017, TahunKe-5, Juni1999.

2NCREL, 1995, "Decentralization: Why, How, and Toward What Ends?" NCREL Policy Briefs, report 1, 1993 dalam Nuril Huda "Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya", Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 017, Tahun Ke-5, Juni 1999.

3Gaynor, Cathy (1998) "Decentralization of Education: Teacher management" Washington, DC: World Bank, dalam Nuril Huda "Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya", Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 017, TahunKe-5,Juni1999.

4Donoseputro, M (1997) "Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Upaya Pencapaian Tujuan Pendidikan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Alat Pemersatu Bangsa", Suara Guru 4:3-6.

5Burns, J.M (1978) Leadership Harper & Row, New York dalam Rumtini (1977) Transformational and Transactional Leadership Performance of Principals of Junior Secondary School in Indonesia, unpublished thesis.

Senin, 09 Maret 2009

sasakala majalengka


SASAKALA MAJALENGKA




Dina abad ka XVI, di wewengkon Majalengka ayeuna aya tilu Karajaan Cakra Ningrat ngaheuyeuk karajaan-karajaan Rajagaluh, Pucuk Umum di Talaga jeung Nyirambut Kasih ratu Sindangkasih.

Nyirambut Kasih lain bae geulis kawanti-wanti, tapi deuih kawendar sakti. Ratu anu gede wibawa jeung gede komara, sarta jadi panutan masyarakat.

Sabagian tina wewengkon Sindangkasih teh masih mangrupa leuweung di antarana tutuwuhana aya anu disebut tangkal maja, anu khasiatna pikeun nyageurkeun kasakit muriang.

Teu jauh ti Sindangkasih, di Cirebon aya Seh Arif Hidayatulloh. Jaman harita di Cirebon sumebar kasakit muriang. Loba anu kaserang.

Syarif Hidatulloh ngutus Pangeran Muhamad jeung Siti Armilah pikeun neangan buah maja sangkan urang Cirebon anu katerap panyakit muriang calageur deui, nya terus bae utusan teh arindit nya bae, salian tirek neangan buah maja teh, Pangeran Muhamad jeung Siti Armilah boga tujuan sejen nyaeta rek nyeubarkeun Agama Islam.

Tantaran utusan ti Cirebon daratangna ka Sindangkasih heunteu permisi heula, Nyirambut Kasih heunteu sakarun wewengkon kakawasaanna di tincak ku jalma lain. Nyirambut Kasih ngawatek kasktianna. Leweung nu asalna pinuh ku tangkal maja teh langsung ngaleungit. Eta utusan teh teu manggih anu diteanganana, lantaran tangkal maja anu tadina loba teh jadi eweuh.

“Majane langka, majane langka” ceuk ceuk utusan dina basa cirebon, nu maksudna majana euweuh.



Nya neulah bae jadi Majalangka terusna dirobah jadi Majalengka.

Sanajan anu diteanganana teu kapanggih oge, pangeran Muhamad jeung Siti Armilah henteu terus mulang ka Cirebon, ceuk angkeuhanana sugan wae dina hiji waktu mah bakal manggihan tangkal Maja, Jadi eta utusan teh teu eureun-eureun neangan tangkal eta, bari sakalian nyebarkeun agama Islam.

Sabada gawurukan bagbagan agama islam kabalarea disaumbara tempat Pangeran Muhamad terus matuh digunung Margatapa, ari Siti Armilah itikap satekah pilah pikeun ngaislamkeun Nyi Rambut Kasih ngan keukeuh teu hasil Nyi Rambut Kasih teuteup kana agamana, tapi kaahirnamah ngahiang.

Sabada ditinggalkeun kukarajaan Sidang Kasih aya dina kakawasan Cirebon sarta sateurusna mah Majalengka. Pangeran Muhamad tilar dunya, dimakamkeun di Marga tapa, ari Siti Armilah mah dimakamkeun di tukangeun Pendopo Kabupaten Majalengka, ayeuna anu kateulahna makam “Ki Bedeng Badori”.




















Keunging :

Ahmad Hanafiah

Kelas : XII IPA

























aliran jabariyah

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Kemunculan Jabariyah

Secara sosiologis, Masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham Jabariyah. Bangsa Arab yang pada waktu itu bersifat serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, terpaksa menyesuaikan hidup mereka dengan suasana padang pasir, dengan panasnya yang terik serta tanahnya yang gundul. Dalam dunia yang demikian mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tak berkuasa menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang ditimbulkan suasana padang padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka banyak tergantung pada kehendak natur. Hal ini membawa mereka pada faham fatalism1. Disamping itu, dalam bukunya Ilmu Kalam,Thaib Thahir mengungkapkan bahwa faham ini disebabkan karena disebabkan kuanya iman terhadap qudrat dan iradat Allah ditambah pula dengan sifat wahdaniyatnya itulah yang mendorongnya kepada faham jabariyah.

Aliran ini muncul ketika masa Bani Umayyah. Pemimpin pertama dari aliran jabariyah ini adalah jaham bin sofwan. Karena itu faham ini kadang-kadang disebut Al-jahamiyah. Meskipun jaham yang banyak berperan dalam menyebarkan faham ini, tetapi Aliran ini untuk pertama kali dalam sejarah teologi Islam ditonjolkan oleh al-Jad bin Dirham. Aliran Jabariyah timbul bersamaan dengan timbulnya aliran Qadariyah, dan tampaknya merupakan reaksi dari padanya. Daerah tempat timbulnya pun tidak berjauhan. Aliran jabariyah timbul di Khurasan Persia sedangkan Qadariyah timbul di Iraq2.

Jaham lah yang pertama kali mengatakan bahwa manusia dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sedikit juapun untuk bertindak dalam mengerjakan sesuatu. Allah lah yang menentukan sesuatu itu kepada seseorang, apa yang akan dikerjakannya, baik dikehendaki oleh manusia itu sendiri maupun tidak. Jadi Allah lah yang memperbuat segala pekerjaan manusia3.

  1. Kelompok dan Faham Jabariyah

Tampaknya setiap aliran memilki faham yang mereka anut dan mereka jalankan sesuai dengan keyakinan mereka. Meskipun sebuah aliran sudah tidak ada, namun faham-faham aliran tersebut masih terus bergulir saling mempengaruhi dari generasi ke generasi. Meskipun secara jelas aliran jabariyah ini sudah hampir tidak dijumpai lagi, namun faham-fahamnya masih ada. Sejalan dengan faham jabariyah ini adalah faham Fatalism. Disamping itu juga ada beberapa golongan yang memilki pemahaman yang serupa dengan jabariyah, dan dalam jabariyah itu sendiri terbagi menjadi kelompok.

  1. Kelompok moderat

Faham moderat ini dipelopori dan di bawa oleh al-Husain Ibn Muhammad al- Najjar. Kata al-Najar, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia baik perbuatan baik maupun perbuataan jahat. Meski demikian manusia memilki andil dalam perbuatan-perbuatannya. Tenaga yang diciptakan-Nya memilki efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dan inilah yang disebut usaha, kasb atau acquition. Senada dengan faham ini adalah fahamnya Dirar Ibn ‘Amr ia mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan manusia pada hakekatnya diciptakan Tuhan, dan diperoleh (acquired, iktasaba) pada hakekatnya oleh manusia.

Dalam faham yang dibawa Dirar dan al-Najjar ini manusia tidak lagi merupakan wayang yang digerakan oleh dalang. Manusia telah mempunya bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatannya. Menurut faham ini, manusia dan Tuhan bekerjasama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia. Manusia semata-mata tidak dipaksa dalam dalam melakukan perbuatan-perbuatannya. Faham kasb yang dibawa Dirar dan al-Najjar merupakan faham penengah dari faham Qadariyah yang dibawa Ma’bad serta Ghailan dan faham Jabariyah yang dibawa oleh Jahm.


  1. Kelompok ekstrem

Faham ekstrem ini lah yang dibawa oleh jahm bin shafwan4. Kaum jabariyah ekstrem ini berpendapat bahwa manusia tidak memilki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Nama Jabariyah sendiripun diambil dari kata Jabara yang mengandung arti memaksa. Memang dalam aliran ini terdapat faham yang memandang bahwa manusia dalam mengerjakan perbuatanya terpaksa (majbur) dalam istilah Inggris faham ini disebut faham fatalism atau predenstination. Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh kada dan kadar Allah.

Menurut Jahm manusia tidak memilki kekuasaan untuk berbuat apa-apa; manusia tidak mempunyai daya, tidak memilki kehendak sendiri dan tidak mempunyai kekuasaan serta tidak memilki pilihan. Manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya

.هو مجبور في أفعاله لا قدرة له ولااردة ولا اختيار

Perbuatan-perbuatan diciptakan tuhan dalam diri manusia, tak obahnya dengan gerak yang diciptakan Tuhan dalam benda-benda mati. Oleh karena itu manusia berbua bukan dalam arti sebenarnya, tetapi dalam arti majazi atau kiasantak obahnya sebagaimana disebut air mengalir, batu bergerak, maahari terbit dan sebaginya. Segala perbuatan manusia merupakan perbuatan yang dipaksakan atas dirinya termasuk didalamnya perbuatan-perbuatan seperti menegrjakan kewajiban, menerima pahala dan menerima siksaan5.

Menurut faham ekstrem ini, segala perbuatan manusia tidak merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Kalau seorang mencuri, umpamanya, maka perbuatan mencuri itu bukanlah terjadi atas kehendaknya sendiri, tetapi timbul karena kada dan kadar Tuhan menghendaki yang demikian. Dengan kata kasarnya, ia mencuri bukanlah kehendaknya sendiri, tetapi Tuhan lah yang memaksa ia mencuri. Manusia, dalam faham ini hanya merupakan wayang yang digerkan oleh sang dalang. Sebagaimana manusia digerakan oleh Tuhannya. Tanpa gerak dari Tuhan manusia tidak bisa berbuat apa-apa6.

  1. Pertanyaan-Pertanyaan kepada Jabariyah dan Jawabannya

Dalam dialektika keilmuan, beradu argument dalam rangka mempertahankan pendapat dan membuka diri untuk dapat dikritik merupaka sebuah tradisi. Mereka tidak menutup diri dari kritik, hanya yang belum berpendirian teguhlah yang belum berani terbuka. Hal ini dibuktikan mislanya pada tradisi dialektika masa filsuf yunani. Disamping itu pula dalam dunia teologi Islam, saling serang menyerang argument adalah hal yang biasa. Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada Jabariyah dan bagaimana mereka menjawabnya.

Sebelum memualai pada pertanyaan dan jawaban mereka, alangkah lebih baik diketahui terlebih dahulu bagaimana jalan pikiran Jabariyah dalam soal-soal keimanan lainnya. Di bawah ini akan diuraikan alam pikiran Jabariyah:

  1. Apa yang diperbuat itu adalah atas qudrat dan iradat Allah semata, tanpa campur tangan manusia sedikitpun. Tetapi dengan faham ini tidak berarti bahwa Jabariyah menganggap semua kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah itu sia-sia saja, dan juga mereka tidak menganggap bahwa balasan-balasan Tuhan atas kejahatan manusia itu sebagai kezhaliman.

  2. Ahli Jabariyah tidak mendustakan utusan-utusan Allah dan tidak juga membebaskan diri dari semua larangan-larangan Allah. Dari sini teranglah bahwa Jabariyah tidak sama dengan kaum Musyrikin yang menentang kewajiban dan larangan Allah dengan menggunakan alasan: jika Allah tidak menghendaki kami menjadi kaum Musyrikin, niscaya tidak akan menjadi orang Musyrikin.

Setelah mengetahui alur pikiaran, maka timbullah beberapa pertanyaan yang ditujukan pada mereka diantaranya:

  1. Kalau pedapat ahli Jabariyah seperti yang disebutkan diatas, maka apakah artinya Tuhan mengutus Rasulnya dan menurunkan Qur’an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman? Tidaklah itu menajadi sia-sia belaka?

Jabariyah menjawab semuanya itu tidak sia-sia, karena semuanya itu pun untuk menjalankan qadar Allah juga terhadap orang-orang yang ta’at dan orang-orang yang maksiat. Keadaan itu tidak bedanya dengan Tuhan menurunkan hujan. Jika hujan itu jatuh di atas tanahyang subur tentu akan menyuburkan dan akan menumbuhkan macam-macam tumbuhan atas izin dan kekuasaan Allah SWT. Sedangkan sebagian hujan yang lain jatuh di atas tanah yang tandus karena sudah ditakdirkan Allah demikian.

Demikian pula Allah menerbitkan matahari, yang dengan sinarnya berpencerlah faedah dan kemanfaatan yang tidak erbilang banyaknyabagi kehidupan manusia dan langsungnya hidup alam fana ini. Tidak bedanya dengan hal itu Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus Rasul-rasul Nya yang dipilih dari hamba-hamba Nya, bagaikan hujan dan matahari yang penuh dengan rahmat dan hikmah. Bilamana hikmah dan pengajaran Rasul-rasul Nya itu kebetulan sampai kepada oarng yang hatinya telah dibukakan Allah untuk menerimanya niscaya segeralah ia menangkap dan menerima ajaran-ajaran yang mengandung hikmah itu.

Sebaliknya bila ajaran-ajaran itu jatuh kepada orang-orang yang memang hatinya tidak bersedia menerimanya, sudah tentu ia tidak akan suka menerimanaya, malahan ia lari dan benci terhadap ajaran-ajaran yang amat tinggi nilainya itu. Sedangkan dakwah itu seolah-olah suatu kewajiban yang ditaklif (diwajibkan), tetapi pada hakekatnya merupakan merupakan kewajiban untuk membuktikan ketaatan mereka yang sangat taat, dan perintah Tuhan bagi orang-orang maksiat itu, adalah sebagi perintah memperolok-olok saja, atau untuk menjadi bukti akan kelalaian dan pembangkangan mereka.

Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan dakwah perintah-perintah Tuhan, kepada seluruh manusia. Dengan begitu maka mereka tidak ada alasan untuk mengingkari adanya kewajiabn - kewajiban itu. Kalu kitab-kitab itu tidak diturunkan Allah dan Allah tidak mengutus utusan yang menyampaikan dakwah itu, mungkin timbul perdebatan kalau seandainya kami menerima menerima ajaran-ajaran itu, tentu kami akan iman dan akan lebih sempurna iman kami dari pada mereka yang sudah beriman sekarang.

Demikianlah, maka dengan telah diturunkannya kitab-kitab Allah dan diutusnya Rasul-rasul itu, akan ternyata kelak bahwa merek melakuakan kejahatn dan tidak suka tunduk kepada ajaran Rasul –rasul itu harus memilki konsekwensi atas perbuatannya sendiri dan tidak akan melemparkan pertanggung jawaban itu kepada Rabbul ‘alamin.

  1. Bagaiman Tuhan memperbuat hambanya celaka sedangkan semua kelakuan hambanya adalah Allah jua yang menunjukannya, Allah jua yang membuatnya, dan Allah jua yang memudahkan terlaksananya. Maka tidakkah hal itu dapat dikatakan kezhaliman? Tidakkah sebaiknya kalau semua hamba Allah itu dijadikan orang yang baik-baik dan semuanya bahagia?

Jabariyah menjawab segala apa saja yang terjadi di alam ini adalah telah ditentukan Allah dalam azalinya. Dan semua yang dijadikan Allah itu tentu ada hikmahnya. Allah memberi wujud pada sesuatu seperti yang tampak wujud dimata kita ini, adalah menurut kemauan dan yang dikehendaki, serta menurut tujuan sesuatu yang dimintanya kepada Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh bertanya-tanya sesuatu yang sudah terjadi itu mengapa dijadikan demikian, umpamanya:mengapa emas dijadikan kekuning-kuningan, mengapa tanah dijadikan tanah seperti ini, dan mengapa api itu bias menghanguskan dan air itu bias memadamkan? Dan seterusnya. Begitu pula tidak boleh dikatakan, mengapa yang baik itu dikatakan baik, dan yang buruk itu dijadikan buruk ? dan mengapa sebagian yang lainnya dihinakan, di dunia atau di akhirat ? karena Allah itu memberikan sesuatu itu sesuai dengan ilmu Allah sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha ayat 50

اعطى كلا شيئ خاقه ثم هدى

“ Allah Ta’ala itu memberikan kepada sesuatu apa juapun kejadiannya kemudian Allah memberikan petunjuk kepadanya”.

Seperti di atas juga telah disebutkan bahwa orang tidak perlu memperkatakan mengapa si A dijadikan baik sedang si C dijadikan jelek, atau mengapa si B menjadi orang yang sedang-sedang. Sebab persoalan ini merupakan persoalan yang berputar bagaikan lingkaran yang tiada berujung dan berpangkal. Sebab walaupun pekerjaan itu baik toh masih akan ditanya juga sebab mengapa diperbuat baik, tidak diperbuat yang jelek saja. ?

Allah SWT Tuhan semesta alam pencipta dan pengatur alam, lebih baik berhak untuk mengerjakan dan menunjukan kekuasaan Nya di alam yang luas ini menurutkehendak dan kemauan Nya. Hal itu sesuai dengan firman Allah :

وربك يخلق ما يشاء ويختار

“Tuhanmu lah yang menjadikan segala pa yang dikehendaki Nya serta memilih dan menentukan Nya” (al-qashas : 68)

Manusia tidak berhak untuk menyanggah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan serta diperbuat Allah, tetapi Allah berhak menuntut dan mengadili apa yang diperbuat oleh manusia. Sebab akal manusia tidak akan sanggup mencapai ilmu Allah, dan hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui hikmah-hikmah yang lebih dalam tentang apa-apa yang dijadikan Nya. Demikianlah, semua yang telah diuraikan di atas, adalah uraian singkat tentang sekelumit Jabariyah7.


BAB III

KESIMPULAN

Jabariyah muncul ketika masa Bani Umayyah. Pemimpin pertama dari aliran jabariyah ini adalah jaham bin sofwan. Jabariyah itu sendiri terbagi menjadi kelompok: pertama kelompok moderat dan kelompok ekstrem. Kelompok moderat ini dipelopori dan di bawa oleh al-Husain Ibn Muhammad al- Najjar. Kata al-Najar, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia baik perbuatan baik maupun perbuataan jahat. Meski demikian manusia memilki andil dalam perbuatan-perbuatannya. Tenaga yang diciptakan-Nya memilki efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dan inilah yang disebut usaha, kasb atau acquition

kedua Faham ekstrem ini lah yang dibawa oleh jahm bin shafwan. Kaum jabariyah ekstrem ini berpendapat bahwa manusia tidak memilki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Disamping itu juga ada beberapa pertanyaan dan jawaban yang bergulir mengenai faham Jabariyah ini.

Pertanyaan pertama apakah artinya Tuhan mengutus Rasulnya dan menurunkan Qur’an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman? Tidaklah itu menajadi sia-sia belaka? Jabariyah menjawab semuanya itu tidak sia-sia, karena semuanya itu pun untuk menjalankan qadar Allah juga terhadap orang-orang yang ta’at dan orang-orang yang maksiat.

Pertanyaan kedua Bagaiman Tuhan memperbuat hambanya celaka sedangkan semua kelakuan hambanya adalah Allah jua yang menunjukannya, Allah jua yang membuatnya, dan Allah jua yang memudahkan terlaksananya. Maka tidakkah hal itu dapat dikatakan kezhaliman? Tidakkah sebaiknya kalau semua hamba Allah itu dijadikan orang yang baik-baik dan semuanya bahagia? Jabariyah menjawab segala apa saja yang terjadi di alam ini adalah telah ditentukan Allah dalam azalinya. Dan semua yang dijadikan Allah itu tentu ada hikmahnya. Allah memberi wujud pada sesuatu seperti yang tampak wujud dimata kita ini, adalah menurut kemauan dan yang dikehendaki, serta menurut tujuan sesuatu yang dimintanya kepada Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh bertanya-tanya sesuatu yang sudah terjadi itu mengapa dijadikan demikian,




.

1 Nasution, harun, Teologi Islam: aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan, UI Press, Jakarta, 1983, hal 31

2 A. Nasir Shalihun, pengantar ilmu kalam, Rajawali Press, Jakarta, 1991, hal 133

3 Abdul mun’m Thaib Thahir, Ilmu Kalam, Widjaya, Jakarta, 1986,Hal 101

4 Jahm bin shafwan selain penggerak gerakan jabariyah, juga seorang pemimpin yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mempunyai sifat-sifat menurut Jahm, Tuhan hanya memilki Zat saja. Jahm berkata tidak layak tuhan itu disipati oleh sifat-sifat yang dipakai untuk mensifati makhluknya.

5 Lih al-Milal jilid 1 hal 87

6Nasution, harun, op.cit hal 34

7 A. Nasir Shalihun, op.cit. hal 242-246

Minggu, 22 Februari 2009

Antara idealitas dan realitas demontrasi

by: asep supriyadi

Unjuk rasa dan demontrasi dipandang sebagai hal yang dibenarkan karena memilki nilai positif yakni memperjuangkan hak rakyat yang menjadi suara tuhan vox populi vox dei. Namun disisi lain Unjuk rasa dan demontrasi juga banyak disesalkan karena banayk juga yang mengandung unsure anarkisme dan emosi yang tidak terkontrol sehingga menimbulkan korban. Ironisnya lagi, korban tersebut menimpa pada masyarakat sendiri yang sedang diperjuangkan hak-haknya.

Demontrasi dan mengemukakan pendapat adalah hal yang boleh-boleh saja karena hal itu telah dilindungi oleh undang-undang sebagaimana tercantum dalam undang-undang dasar 1945 pasal 28 E ayat 3 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat. Secara yuridis, maka hal inilah yang melatar belakangi terjadinya berbagai usul, kritik serta saran. Unjuk rasa yang merupakan respon atas berbagai kebijakan dari suatu “kekuasaan” juga telah diatur dalam UU No. 9/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Unjuk rasa biasanaya terjadi atas nama idealitas, suara rakyat, kondisi sosial yang terjadi untuk mencapai kemashlahatan bersama suatu kelompok.

Berangkat dari landasan hak asasi dan konstitusional itulah seseorang boleh mengajukan pendapat dan berargumentasi serta unjuk rasa di muka umum. Namun demikian hal tersebut tidak menjadikan seseorang bebas semena-mena menggunakan haknya tetapi melanggar hak orang lain. Unjuk rasa yang anarkis tidak bisa dikatakan hal tersebut merupaka hak asasi, karena hal tersebut mengganggu aktifitas orang lain, mengganggu ketenangan dan ketertiban umum yang sebenarnya mereka memilki hak untuk hidup aman dan tentram karena itu merupakan kebutuhan. Abraham maslow telah mengungkapkan hal itu, bahwa kebutuhan akan keamanan menjadi prioritas kebutuhan manusia.

Bertitik tolak dari teorinya Abraham maslow, jika yang unjuk rasa atau pendemo berlaku anarkis secara disadari atau tidak, maka ia telah melanggar hak asasi orang lain. Hal ini perlu dipahami agar unjuk rasa dalam rangka menuntut hak berjalan sesuai dengan tujuannya yakni menjungjung tinggi aspirasi rakyat bukan malah membuat rakyat menjadi geram dengan tingkah laku pendemo atau pengunjuk rasa yang anarkis. Kekerasan dan anarkisme tetap itulah namanya, kebanyakan orang tidak akan membenarkan hal tersebut walau apapun alasannya.

Isu tentang akan adanya kebijakan pemerintah yang mengatur tentang demontrasi atau unjuk rasa, kiranya perlu direspon dengan positif. Kebijakan tentang hal itu perlu mendapatkan perhatian mengingat telah banyak korban atas demontrasi atau unjuk rasa yang anarkis. Namun demikian kebijakan tersebut haruslah menempuh jalan komunikasi dan musyawarah sehingga adanya kesepakatan. Disamping itu juga, kebijakan tersebut hendaknya tidak membatasi ekspresi unjuk rasa dan memiliki unsur maslahat bagi semua orang.

 
Untuk tampilan terbaik blog ini gunakan Mozilla Firefox Green Template is proudly powered by Blogger.com | Template by Amatullah | Template Design