Posted by you

Your Titel

Descriptions here

Ngeblog Offline
Posted by you

Your Titel

Descriptions here

Tab View Slide
Posted by you

Your Titel

Descriptions here

tab view sederhana

Senin, 09 Maret 2009

aliran jabariyah

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Kemunculan Jabariyah

Secara sosiologis, Masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham Jabariyah. Bangsa Arab yang pada waktu itu bersifat serba sederhana dan jauh dari pengetahuan, terpaksa menyesuaikan hidup mereka dengan suasana padang pasir, dengan panasnya yang terik serta tanahnya yang gundul. Dalam dunia yang demikian mereka tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah dan tak berkuasa menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang ditimbulkan suasana padang padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka banyak tergantung pada kehendak natur. Hal ini membawa mereka pada faham fatalism1. Disamping itu, dalam bukunya Ilmu Kalam,Thaib Thahir mengungkapkan bahwa faham ini disebabkan karena disebabkan kuanya iman terhadap qudrat dan iradat Allah ditambah pula dengan sifat wahdaniyatnya itulah yang mendorongnya kepada faham jabariyah.

Aliran ini muncul ketika masa Bani Umayyah. Pemimpin pertama dari aliran jabariyah ini adalah jaham bin sofwan. Karena itu faham ini kadang-kadang disebut Al-jahamiyah. Meskipun jaham yang banyak berperan dalam menyebarkan faham ini, tetapi Aliran ini untuk pertama kali dalam sejarah teologi Islam ditonjolkan oleh al-Jad bin Dirham. Aliran Jabariyah timbul bersamaan dengan timbulnya aliran Qadariyah, dan tampaknya merupakan reaksi dari padanya. Daerah tempat timbulnya pun tidak berjauhan. Aliran jabariyah timbul di Khurasan Persia sedangkan Qadariyah timbul di Iraq2.

Jaham lah yang pertama kali mengatakan bahwa manusia dalam keadaan terpaksa, tidak bebas dan tidak mempunyai kekuasaan sedikit juapun untuk bertindak dalam mengerjakan sesuatu. Allah lah yang menentukan sesuatu itu kepada seseorang, apa yang akan dikerjakannya, baik dikehendaki oleh manusia itu sendiri maupun tidak. Jadi Allah lah yang memperbuat segala pekerjaan manusia3.

  1. Kelompok dan Faham Jabariyah

Tampaknya setiap aliran memilki faham yang mereka anut dan mereka jalankan sesuai dengan keyakinan mereka. Meskipun sebuah aliran sudah tidak ada, namun faham-faham aliran tersebut masih terus bergulir saling mempengaruhi dari generasi ke generasi. Meskipun secara jelas aliran jabariyah ini sudah hampir tidak dijumpai lagi, namun faham-fahamnya masih ada. Sejalan dengan faham jabariyah ini adalah faham Fatalism. Disamping itu juga ada beberapa golongan yang memilki pemahaman yang serupa dengan jabariyah, dan dalam jabariyah itu sendiri terbagi menjadi kelompok.

  1. Kelompok moderat

Faham moderat ini dipelopori dan di bawa oleh al-Husain Ibn Muhammad al- Najjar. Kata al-Najar, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia baik perbuatan baik maupun perbuataan jahat. Meski demikian manusia memilki andil dalam perbuatan-perbuatannya. Tenaga yang diciptakan-Nya memilki efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dan inilah yang disebut usaha, kasb atau acquition. Senada dengan faham ini adalah fahamnya Dirar Ibn ‘Amr ia mengatakan bahwa perbuatan-perbuatan manusia pada hakekatnya diciptakan Tuhan, dan diperoleh (acquired, iktasaba) pada hakekatnya oleh manusia.

Dalam faham yang dibawa Dirar dan al-Najjar ini manusia tidak lagi merupakan wayang yang digerakan oleh dalang. Manusia telah mempunya bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatannya. Menurut faham ini, manusia dan Tuhan bekerjasama dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan manusia. Manusia semata-mata tidak dipaksa dalam dalam melakukan perbuatan-perbuatannya. Faham kasb yang dibawa Dirar dan al-Najjar merupakan faham penengah dari faham Qadariyah yang dibawa Ma’bad serta Ghailan dan faham Jabariyah yang dibawa oleh Jahm.


  1. Kelompok ekstrem

Faham ekstrem ini lah yang dibawa oleh jahm bin shafwan4. Kaum jabariyah ekstrem ini berpendapat bahwa manusia tidak memilki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Nama Jabariyah sendiripun diambil dari kata Jabara yang mengandung arti memaksa. Memang dalam aliran ini terdapat faham yang memandang bahwa manusia dalam mengerjakan perbuatanya terpaksa (majbur) dalam istilah Inggris faham ini disebut faham fatalism atau predenstination. Perbuatan-perbuatan manusia telah ditentukan dari semula oleh kada dan kadar Allah.

Menurut Jahm manusia tidak memilki kekuasaan untuk berbuat apa-apa; manusia tidak mempunyai daya, tidak memilki kehendak sendiri dan tidak mempunyai kekuasaan serta tidak memilki pilihan. Manusia dalam perbuatan-perbuatannya adalah dipaksa dengan dengan tidak ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya

.هو مجبور في أفعاله لا قدرة له ولااردة ولا اختيار

Perbuatan-perbuatan diciptakan tuhan dalam diri manusia, tak obahnya dengan gerak yang diciptakan Tuhan dalam benda-benda mati. Oleh karena itu manusia berbua bukan dalam arti sebenarnya, tetapi dalam arti majazi atau kiasantak obahnya sebagaimana disebut air mengalir, batu bergerak, maahari terbit dan sebaginya. Segala perbuatan manusia merupakan perbuatan yang dipaksakan atas dirinya termasuk didalamnya perbuatan-perbuatan seperti menegrjakan kewajiban, menerima pahala dan menerima siksaan5.

Menurut faham ekstrem ini, segala perbuatan manusia tidak merupakan perbuatan yang timbul dari kemauannya sendiri, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Kalau seorang mencuri, umpamanya, maka perbuatan mencuri itu bukanlah terjadi atas kehendaknya sendiri, tetapi timbul karena kada dan kadar Tuhan menghendaki yang demikian. Dengan kata kasarnya, ia mencuri bukanlah kehendaknya sendiri, tetapi Tuhan lah yang memaksa ia mencuri. Manusia, dalam faham ini hanya merupakan wayang yang digerkan oleh sang dalang. Sebagaimana manusia digerakan oleh Tuhannya. Tanpa gerak dari Tuhan manusia tidak bisa berbuat apa-apa6.

  1. Pertanyaan-Pertanyaan kepada Jabariyah dan Jawabannya

Dalam dialektika keilmuan, beradu argument dalam rangka mempertahankan pendapat dan membuka diri untuk dapat dikritik merupaka sebuah tradisi. Mereka tidak menutup diri dari kritik, hanya yang belum berpendirian teguhlah yang belum berani terbuka. Hal ini dibuktikan mislanya pada tradisi dialektika masa filsuf yunani. Disamping itu pula dalam dunia teologi Islam, saling serang menyerang argument adalah hal yang biasa. Di bawah ini ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada Jabariyah dan bagaimana mereka menjawabnya.

Sebelum memualai pada pertanyaan dan jawaban mereka, alangkah lebih baik diketahui terlebih dahulu bagaimana jalan pikiran Jabariyah dalam soal-soal keimanan lainnya. Di bawah ini akan diuraikan alam pikiran Jabariyah:

  1. Apa yang diperbuat itu adalah atas qudrat dan iradat Allah semata, tanpa campur tangan manusia sedikitpun. Tetapi dengan faham ini tidak berarti bahwa Jabariyah menganggap semua kewajiban-kewajiban yang diperintahkan Allah itu sia-sia saja, dan juga mereka tidak menganggap bahwa balasan-balasan Tuhan atas kejahatan manusia itu sebagai kezhaliman.

  2. Ahli Jabariyah tidak mendustakan utusan-utusan Allah dan tidak juga membebaskan diri dari semua larangan-larangan Allah. Dari sini teranglah bahwa Jabariyah tidak sama dengan kaum Musyrikin yang menentang kewajiban dan larangan Allah dengan menggunakan alasan: jika Allah tidak menghendaki kami menjadi kaum Musyrikin, niscaya tidak akan menjadi orang Musyrikin.

Setelah mengetahui alur pikiaran, maka timbullah beberapa pertanyaan yang ditujukan pada mereka diantaranya:

  1. Kalau pedapat ahli Jabariyah seperti yang disebutkan diatas, maka apakah artinya Tuhan mengutus Rasulnya dan menurunkan Qur’an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman? Tidaklah itu menajadi sia-sia belaka?

Jabariyah menjawab semuanya itu tidak sia-sia, karena semuanya itu pun untuk menjalankan qadar Allah juga terhadap orang-orang yang ta’at dan orang-orang yang maksiat. Keadaan itu tidak bedanya dengan Tuhan menurunkan hujan. Jika hujan itu jatuh di atas tanahyang subur tentu akan menyuburkan dan akan menumbuhkan macam-macam tumbuhan atas izin dan kekuasaan Allah SWT. Sedangkan sebagian hujan yang lain jatuh di atas tanah yang tandus karena sudah ditakdirkan Allah demikian.

Demikian pula Allah menerbitkan matahari, yang dengan sinarnya berpencerlah faedah dan kemanfaatan yang tidak erbilang banyaknyabagi kehidupan manusia dan langsungnya hidup alam fana ini. Tidak bedanya dengan hal itu Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus Rasul-rasul Nya yang dipilih dari hamba-hamba Nya, bagaikan hujan dan matahari yang penuh dengan rahmat dan hikmah. Bilamana hikmah dan pengajaran Rasul-rasul Nya itu kebetulan sampai kepada oarng yang hatinya telah dibukakan Allah untuk menerimanya niscaya segeralah ia menangkap dan menerima ajaran-ajaran yang mengandung hikmah itu.

Sebaliknya bila ajaran-ajaran itu jatuh kepada orang-orang yang memang hatinya tidak bersedia menerimanya, sudah tentu ia tidak akan suka menerimanaya, malahan ia lari dan benci terhadap ajaran-ajaran yang amat tinggi nilainya itu. Sedangkan dakwah itu seolah-olah suatu kewajiban yang ditaklif (diwajibkan), tetapi pada hakekatnya merupakan merupakan kewajiban untuk membuktikan ketaatan mereka yang sangat taat, dan perintah Tuhan bagi orang-orang maksiat itu, adalah sebagi perintah memperolok-olok saja, atau untuk menjadi bukti akan kelalaian dan pembangkangan mereka.

Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan dakwah perintah-perintah Tuhan, kepada seluruh manusia. Dengan begitu maka mereka tidak ada alasan untuk mengingkari adanya kewajiabn - kewajiban itu. Kalu kitab-kitab itu tidak diturunkan Allah dan Allah tidak mengutus utusan yang menyampaikan dakwah itu, mungkin timbul perdebatan kalau seandainya kami menerima menerima ajaran-ajaran itu, tentu kami akan iman dan akan lebih sempurna iman kami dari pada mereka yang sudah beriman sekarang.

Demikianlah, maka dengan telah diturunkannya kitab-kitab Allah dan diutusnya Rasul-rasul itu, akan ternyata kelak bahwa merek melakuakan kejahatn dan tidak suka tunduk kepada ajaran Rasul –rasul itu harus memilki konsekwensi atas perbuatannya sendiri dan tidak akan melemparkan pertanggung jawaban itu kepada Rabbul ‘alamin.

  1. Bagaiman Tuhan memperbuat hambanya celaka sedangkan semua kelakuan hambanya adalah Allah jua yang menunjukannya, Allah jua yang membuatnya, dan Allah jua yang memudahkan terlaksananya. Maka tidakkah hal itu dapat dikatakan kezhaliman? Tidakkah sebaiknya kalau semua hamba Allah itu dijadikan orang yang baik-baik dan semuanya bahagia?

Jabariyah menjawab segala apa saja yang terjadi di alam ini adalah telah ditentukan Allah dalam azalinya. Dan semua yang dijadikan Allah itu tentu ada hikmahnya. Allah memberi wujud pada sesuatu seperti yang tampak wujud dimata kita ini, adalah menurut kemauan dan yang dikehendaki, serta menurut tujuan sesuatu yang dimintanya kepada Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh bertanya-tanya sesuatu yang sudah terjadi itu mengapa dijadikan demikian, umpamanya:mengapa emas dijadikan kekuning-kuningan, mengapa tanah dijadikan tanah seperti ini, dan mengapa api itu bias menghanguskan dan air itu bias memadamkan? Dan seterusnya. Begitu pula tidak boleh dikatakan, mengapa yang baik itu dikatakan baik, dan yang buruk itu dijadikan buruk ? dan mengapa sebagian yang lainnya dihinakan, di dunia atau di akhirat ? karena Allah itu memberikan sesuatu itu sesuai dengan ilmu Allah sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha ayat 50

اعطى كلا شيئ خاقه ثم هدى

Allah Ta’ala itu memberikan kepada sesuatu apa juapun kejadiannya kemudian Allah memberikan petunjuk kepadanya”.

Seperti di atas juga telah disebutkan bahwa orang tidak perlu memperkatakan mengapa si A dijadikan baik sedang si C dijadikan jelek, atau mengapa si B menjadi orang yang sedang-sedang. Sebab persoalan ini merupakan persoalan yang berputar bagaikan lingkaran yang tiada berujung dan berpangkal. Sebab walaupun pekerjaan itu baik toh masih akan ditanya juga sebab mengapa diperbuat baik, tidak diperbuat yang jelek saja. ?

Allah SWT Tuhan semesta alam pencipta dan pengatur alam, lebih baik berhak untuk mengerjakan dan menunjukan kekuasaan Nya di alam yang luas ini menurutkehendak dan kemauan Nya. Hal itu sesuai dengan firman Allah :

وربك يخلق ما يشاء ويختار

Tuhanmu lah yang menjadikan segala pa yang dikehendaki Nya serta memilih dan menentukan Nya” (al-qashas : 68)

Manusia tidak berhak untuk menyanggah apa yang telah ditentukan dan ditetapkan serta diperbuat Allah, tetapi Allah berhak menuntut dan mengadili apa yang diperbuat oleh manusia. Sebab akal manusia tidak akan sanggup mencapai ilmu Allah, dan hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui hikmah-hikmah yang lebih dalam tentang apa-apa yang dijadikan Nya. Demikianlah, semua yang telah diuraikan di atas, adalah uraian singkat tentang sekelumit Jabariyah7.


BAB III

KESIMPULAN

Jabariyah muncul ketika masa Bani Umayyah. Pemimpin pertama dari aliran jabariyah ini adalah jaham bin sofwan. Jabariyah itu sendiri terbagi menjadi kelompok: pertama kelompok moderat dan kelompok ekstrem. Kelompok moderat ini dipelopori dan di bawa oleh al-Husain Ibn Muhammad al- Najjar. Kata al-Najar, Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan manusia baik perbuatan baik maupun perbuataan jahat. Meski demikian manusia memilki andil dalam perbuatan-perbuatannya. Tenaga yang diciptakan-Nya memilki efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dan inilah yang disebut usaha, kasb atau acquition

kedua Faham ekstrem ini lah yang dibawa oleh jahm bin shafwan. Kaum jabariyah ekstrem ini berpendapat bahwa manusia tidak memilki kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Manusia dalam faham ini terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Disamping itu juga ada beberapa pertanyaan dan jawaban yang bergulir mengenai faham Jabariyah ini.

Pertanyaan pertama apakah artinya Tuhan mengutus Rasulnya dan menurunkan Qur’an yang penuh dengan perintah, larangan, janji dan ancaman? Tidaklah itu menajadi sia-sia belaka? Jabariyah menjawab semuanya itu tidak sia-sia, karena semuanya itu pun untuk menjalankan qadar Allah juga terhadap orang-orang yang ta’at dan orang-orang yang maksiat.

Pertanyaan kedua Bagaiman Tuhan memperbuat hambanya celaka sedangkan semua kelakuan hambanya adalah Allah jua yang menunjukannya, Allah jua yang membuatnya, dan Allah jua yang memudahkan terlaksananya. Maka tidakkah hal itu dapat dikatakan kezhaliman? Tidakkah sebaiknya kalau semua hamba Allah itu dijadikan orang yang baik-baik dan semuanya bahagia? Jabariyah menjawab segala apa saja yang terjadi di alam ini adalah telah ditentukan Allah dalam azalinya. Dan semua yang dijadikan Allah itu tentu ada hikmahnya. Allah memberi wujud pada sesuatu seperti yang tampak wujud dimata kita ini, adalah menurut kemauan dan yang dikehendaki, serta menurut tujuan sesuatu yang dimintanya kepada Allah. Oleh karena itu kita tidak boleh bertanya-tanya sesuatu yang sudah terjadi itu mengapa dijadikan demikian,




.

1 Nasution, harun, Teologi Islam: aliran-aliran, sejarah analisa perbandingan, UI Press, Jakarta, 1983, hal 31

2 A. Nasir Shalihun, pengantar ilmu kalam, Rajawali Press, Jakarta, 1991, hal 133

3 Abdul mun’m Thaib Thahir, Ilmu Kalam, Widjaya, Jakarta, 1986,Hal 101

4 Jahm bin shafwan selain penggerak gerakan jabariyah, juga seorang pemimpin yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mempunyai sifat-sifat menurut Jahm, Tuhan hanya memilki Zat saja. Jahm berkata tidak layak tuhan itu disipati oleh sifat-sifat yang dipakai untuk mensifati makhluknya.

5 Lih al-Milal jilid 1 hal 87

6Nasution, harun, op.cit hal 34

7 A. Nasir Shalihun, op.cit. hal 242-246

Tidak ada komentar:

 
Untuk tampilan terbaik blog ini gunakan Mozilla Firefox Green Template is proudly powered by Blogger.com | Template by Amatullah | Template Design